
Oleh Evelyn Justine
KOTA KINABALU – Di dalam sunyi yang merindukan kehadiran Tuhan, Persidangan Fransiskan Sabah 2026, yang berlangsung pada 17-19 Sept 2026 bukan sekadar sebuah program tahunan, tetapi satu panggilan kepada pertaubatan hati, satu ziarah rohani yang membawa umat beriman daripada kebisingan dunia kepada keheningan hadirat Tuhan.
Bersempena dengan Tahun Jubli Fransiskus, persidangan itu dianjurkan oleh Jawatankuasa Penganjur Sabah Franciscan Conference 2026, dengan mengangkat tema yang diwarisi daripada St Fransiskus dari Assisi: “Walk Humbly, Love Deeply, Serve Joyfully” – Berjalan dengan Rendah Hati, Mengasihi dengan Mendalam, Melayani dengan Kasih. Empat nilai yang menyala di tengah-tengah seluruh perjalanan ini ialah iman, persaudaraan, kesederhanaan dan sukacita.
Dimulai dengan Misa Kudus bersempena dengan Pesta Stigmata Sto Fransiskus dari Assisi, dirayakan di Paroki St Michael, Penampang dengan pemberkatan relik.
Relik Sto Fransiskus yang telah selamat tiba dari Rome Italy untuk Persidangan Fransiskan Sabah 2026 adalah suatu rahmat yang mengingatkan kita bahawa kekudusan bukanlah sesuatu yang jauh, tetapi tumbuh daripada luka-luka yang diserahkan kepada Tuhan.
Stigmata yang diterima Sto Fransiskus bukan sekadar tanda ajaib, tetapi lambang jiwa yang benar-benar telah disatukan dengan Kristus yang tersalib. Di hadapan relik orang kudus, umat diajak bertanya: sudahkah aku mengasihi Kristus sampai ke akar jiwaku?
Pada malam kedua, umat berkumpul di Sacred Heart Cathedral, untuk Vigil Doa dalam keheningan, renungan dan persaudaraan disertai berkat relik Sto Fransiskus. Vigil itu bukan tentang kata-kata yang banyak, tetapi hati yang hadir dengan jiwa yang berhenti sejenak daripada kebisingan hidup dan berbisik: “Tuhan, aku di sini, jadikanlah aku alat damaiMu.” Inilah kelahiran sejati setiap persidangan rohani bukan bermula di dewan, tetapi di dalam bilik doa hati manusia.
Kemuncak program itu menyatukan umat dalam persidangan sepanjang hari, dari jam 7.30 pagi hingga 3.30 petang, dengan Misa Kudus pengutusan yang dipimpin oleh Uskup Agung John Wong.
Antara penceramah di dalam persidangan itu ialah Friar Moses Yap, OFM dan Friar Gerald Terence, OFM. Sesi pertama yang di sampaikan oleh Friar Moses Yap, OFM bertajuk “Why Francis Still Matters After 800 Years”, membuka mata hati bahawa lebih lapan abad telah berlalu, namun pesanan Sto Fransiskus tetap bernafas segar.
Dunia yang mencari kuasa, kemewahan dan kemasyhuran masih memerlukan saksi seseorang yang memilih kemiskinan, kerendahan hati dan kasih kepada semua makhluk ciptaan Tuhan. Panggilan Fransiskus berakar dari perjumpaan Kristus melalui Injil peribadi dengan Kristus yang menjelma dalam cinta kepada sesama, alam, dan kehidupan secara keseluruhan.
Fransiskus memilih hidup dalam kesederhanaan, persaudaraan, kedamaian, serta kepeduliaan terhadap seluruh ciptaan. Sto Fransiskus dari Assisi; saudara bagi semua digambarkan dengan tanda stigmata (luka salib di tangan, kaki, dan perut kanan sisi tubuh), seekor burung di tangannya, dan latar tanaman yang subur adalah simbol keharmonian dengan alam ciptaan. Stigmata bukan sekadar keajaiban yang menakjubkan; ia adalah tanda bahawa hidup seseorang telah sepenuhnya dimiliki oleh Kristus yang tersalib.
Sesi Kedua yang disampaikan oleh Friar Gerald bertajuk ”Franciscan Spirituality for the Modern World”, membawa renungan ke dalam realiti harian: keluarga, pekerjaan, masyarakat dan keputusan-keputusan kecil yang kita buat setiap hari.
Kekudusan tidak menuntut kita meninggalkan dunia; kekudusan menuntut kita menguduskan dunia daripada tempat kita berdiri. Percakapan rohani mengajar kita satu kemahiran rohani yang jarang dipraktikkan iaitu mendengar.
Umat diajak mendengar suara Tuhan yang sering berbicara melalui saudara-saudari di sisi kita. Fransiskan sekuler secara istimewa, dipanggil menghayati Injil dalam keluarga, pekerjaan, Gereja, dan masyarakat kemudian membawa pengalaman hidup tersebut kembali menjadi kesaksian Injil.
Keluarga Fransiskan, bukan sekadar sebuah ordo atau jemaah rohani, malah sebuah jaringan persaudaraan yang menjangkau biara, keluarga, pendidikan, rumah sakit, dan lingkungan hidup Umat tidak pulang sebagai penonton, tetapi sebagai utusan. Sebagaimana Sto Fransiskus pernah berkata kepada saudara-saudaranya: ”Pergilah, beritakanlah Injil; jika perlu, gunakan kata-kata” demikianlah umat diutus pulang untuk menjadi Injil yang hidup di rumah, di tempat kerja dan di tengah masyarakat.












































